Minggu, 05 April 2015
Pembangkit Gelombang Harmonic Kedua Dalam Pandu Gelombang Kanal
Diposting oleh Fitria Adi Mustika di 18.10
Dengan
mempertimbangkan pembangkit harmonic kedua pandu gelombang kanal Kristal LiNbO3
dari ω1= ω2 = ω3 maka kondisi matcing frekuensi
(frequency matcing condition) adalah sebagai berikut :
ω3
= 2ω1 = 2ω (4.89)
hasil
kondisi matching fasa (phase matching condition) adalah
n(2ω)
ω3 = 2n1 (ω1) ω1 dengan n(2ω)
= n(ω) (4.90)
kondisi
indeks bias seperti ini biasanya tidak dihasilkan yang dikarenakan adanya
disperse medium.tetapi kondisi ini dapat terpenuhi untuk gelombnag ordinary dan
extraordinary dalam Kristal briefringent. Jika n1(2ω) (ϴm)
< n0(ω) maka sudut
(ϴm) ada, yang mana n1(2ω)
(ϴm) = n0(ω).
Dari sini, jika gelombang ω yang terjadi
sepanjang ϴm
sebagai gelombang ordinary maka gelombang harmonic kedua dihasilkan sebagai
gelombang extradinary. Sebagai contoh yang terjadi pada Kristal LiNbO3,
kondisi matcing fasa dapat dihasilkan sebagai gelombang dari perubahan
temperature, karena birefringence dan disperse sangat sensitive pada temperature.
Dalam kasus pandu gelombang kanal, pengaturan temperature dilakukan pada arah
ketika ϴm = 90ᵒ, karena arah
propagasi dari gelombang harmonic dasar dan gelombang harmonic kedua dibatasi
untuk arah pandu gelombang. Jika sumbu optis x,y dan z (tiap-tiap indeks bias n0,
ni dan ne).
ketika
sebuah gelombang yang terjadi ω1 = ω adalah moda dasar Ey
dimana komponen y, E1y dominan, maka output gelombang harmonic kedua
adalah moda dasar Ez dengan ω3 = 2ω yang mana komponen z,
E3z dominan. Komponen z dapat ditulis dalam persamaan sebagai
berikut :
𝛁2E3Z
= μ0 ε3 ∂2E3Z /
∂t2
+ μ0 ∂2
P3Z/ ∂t2 (4.91)
Dari
persamaan, polarisasi non linier P diberikan sebagai berikut :
Pz
= d31.E1X2 + d31. E1X2
+ d33.E1z2,
= d31. E1y2 (4.92)
Menjadi
:
𝛁2E3Z
= μ0 ε3 ∂2E3Z /
∂t2
+ μ0
d31 ∂2 E21y/
∂t2
Dimana
E1y
dan E3Z merupakan gelombang propagasi bidang sepanjang arah x,
yang diekspresikan sebagai berikut :
E1y
(x,t) = ½ [E1y(x)ej(ω1t-β1x) +c.c] (4.94)
E3z
(x,t) = ½ [E3z (x) ej(ω3t-β3x) +c.c] (4.94)
Kondisi
matching fasa :
Δβ
= β3-2 β1 → 0
Sumber : Buku Optika Terpadu Karangan Agus
Rubiyanto dan Ali Yunus Rohedi
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar